Bapak

Kalau tidak salah, aku terakhir bertemu dengan beliau sekitar tiga tahun lalu saat ada acara di Jakarta. Beliau memang tinggal di sana. Dan setelah itu, setiap kali ke Jakarta, entah kenapa aku tidak pernah meluangkan waktu untuk menengok beliau. Komunikasi terakhir juga via telpon saat memberi kabar bahwa ibu meninggal, hampir dua tahun lalu.

Ya, komunikasi kami memang tidak baik. Tepatnya kurang lancar. Masalahnya cuma satu, aku. Ya, aku memang yang menjadi masalah karena sebagai anak tidak pernah “ngaruhke” kepada yang lebih tua.

Anak? Ya, beliau memang ayahku, ayah kandung, ayah biologis. Namun karena sesuatu hal, beliau terpaksa meninggalkan ibu saat aku masih berada di kandungan. Aku pertama kali mengenal beliau saat masih TK, masih kecil belum paham apa-apa. Sehingga sosok “bapak” yang aku tahu adalah bapak yang selama itu tinggal serumah dengan aku, bapak yang merawat aku, memberi makan serta membiayai sekolahku. Bahkan saat menikah, aku lebih memilih paman mendampingi ibu. Satu penghormatanku kepada bapak tiriku. Oh God, I never use that word…

Dan saat ini, aku duduk di ruang tunggu bandara. Pagi tadi aku dapat kabar beliau meninggal dunia. Aku memang sedih. Setidak harmonis apapun komunikasi kami, beliau tetaplah bapakku, ayah kandungku. Pesawat ke Jakarta baru akan take off nanti jam 13:00. Dan aku sudah tidak bisa berharap bisa memandang wajah bapak untuk terakhir kali. Tapi aku memang wajib datang. Yang utama mendoakan beliau. Barangkali juga aku bisa berperan selayaknya seorang “kakak” terhadap dua adik perempuanku di sana. Mungkin hubungan ini harus diperbaiki…

Selamat jalan bapak…