WAYAH GUMREGAH – Festival Seni Tradisi Anak Merapi

Tari TOPENG IRENG

.

Prosesnya begitu cepat. Tanpa ada rencana, tiba2 aku tertarik bergabung dengan tim untuk berangkat ke Magelang, tepatnya di desa Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Programnya adalah meliput acara Wayah Gumregah, Festival Seni Tradisi Anak Merapi. Well, resiko menjadi ‘orang baru’ di antara kawan-kawan lama adalah: jadi sopir!

Acara pembukaan sebagaimana tertera di undangan adalah jam 14.00, So, kita berangkat dari Jogja jam 12.00. Rencananya di jalan mau mampir makan siang dulu. Tapi rencana tinggal rencana, karena gak kepikir kalau hari ini adalah akhir dari liburan sekolah, sehingga jalanan bener-bener macet, apalagi ada beberapa titik jalan yang sedang dibenerin, bikin perjalanan tambah lambat lagi. Oke, lupakan makan siang.. kita segera meluncur ke TKP.  Oh ya, ‘kita’ adalah dua temanku, Agus dan Hafiz dan aku…

Tepat jam 14.00 kita sampai di desa Sengi. Lokasinya hanya berjarak 4km dari puncak Merapi. Secara fisik, masih terlihat sisa-sisa erupsi beberapa waktu yang lalu. Lahan penuh pasir dan jembatan rusak. Tapi, di wajah mereka sudah tidak terlihat kesedihan. Yang nampak adalah semangat! Dari ujung desa sudah terlihat kesibukan seluruh warga. Dari yang menjadi ‘panitia’ hingga yang jualan makanan serta sekedar menjadi penonton. Keceriaan mereka menyemangati kami hingga lupa bahwa sejak pagi belum makan.
Acara dimulai. Agus dan Hafiz menyiapkan kamera dan  segera berpencar mencari tempat yang nyaman dan obyek yang menarik. Aku sendiri segera mengeluarkan handycam yang sudah dipersiapkan dari kantor.

Yang pertama adalah permainan perkusi, yang dimainkan oleh sekelompok anak muda dari Jakarta. Aduh, nama kelompoknya aku lupa, tapi mereka memainkan komposisi yang sangat asyik dan rancak. Oh, ternyata tugas mereka adalah memainkan musik sebagai ucapan selamat datang kepada setiap (kelompok) peserta yang memasuki arena.

Acara selanjutnya adalah seremonial, berisikan pidato-pidato sambutan yang membosankan. Satu yang menarik hanyalah saat menjelang pemotongan tumpeng didahului dengan doa-doa sembari pembakaran kemenyan. Suasana mistis mulai terasa. Yang jelas, ingkung (daging ayam utuh) bikin aku jadi krasa lapar! hehe..

Peseerta pertama yang tampil adalah ANGGUK RAME, dari dusun Ngargotontro. Terdiri dari belasan peserta, mereka menarikan gerakan yang rampak, sederhana disertai dengan iringan (sepertinya) bacaan salawat. Yang lucu adalah, mereka bermain berdasarkan aba-aba yang menggunakan ‘bahasa aneh’ yang hanya mereka yang tahu. Hampir semua penonton tertawa mendengar aba-aba tersebut. Besok deh, kalau sudah diedit, videonya diupload. Dijamin ngakak!

Berikutnya adalah tarian JARAN DEBOG dari Desa Salaman. Wow, desa ini jauh di ujung barat kabupaten Magelang. Berarti pesertanya tidak hanya dari daerah Desa Sengi saja. Tarian ini dimainkan oleh anak-anak, menceritakan tentang usaha menjaga budaya lokal, ditengah masuknya budaya asing yang begitu gencar. Sangat menarik.

Penampil ketiga adalah KOBRO SISWO dari Desa Sengi. Disusul tarian TOPENG IRENG dari dusun Gowok Pos. Para penampil menggunakan atribut seperti  suku Indian, namun menggunakan sepatu lars seperti tentara yang dihiasi lonceng, sehingga bila bergerak menimbulkan bunyi gemerincing. Sangat menarik, karena puluhan atau bahkan ratusan lonceng bergerak dan bergemerincing bersamaan.  Pada saat inilah masalahku muncul, karena batre kameraku mulai drop. Hedew..

Secara umum, gerakan tari dari maasing-masing kelompok bias dibilang mirip.. mungkin mereka mengadopsi dari tarian Angguk yang merupakan tarian khas daerah Kedu dan sekitarnya. Hanya kemudian dimodifikasi dengan koreografi dan atribut yang membuat lebih ‘hidup’ dan meriah.

Setelah, tari Topeng Ireng, acara break dulu, dilanjutkan malamnya hingga esok hari. Kami segera pamit, karena harus meliput acara Festival Gamelan di Jojga. Besok kami akan datang lagi.

Menyenangkan, meski hari ini aku menjadi Videodriver. Ngurusi videografi plus jadi sopir…
Pengen lihat ulasannya? Silahkan cek di www.kratonpedia.com

.

NB: Wayah Gumregah: Waktunya Anak Cucu Merapi bangkit

.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s