~ Perjalanan 40 Hari 40 Kota (1)

Kepastian perjalanan ini turun setelah mendapat surat tugas dari kantor. Blegh! Berarti aku akan kehilangan beberapa momen penting. 1. Aku tidak bisa melihat pameran fotografiku yang pertama, barangkali pula yang terakhir di Sangkring Art Space. 2. Aku tidak bisa ikut saat ulang tahun anak perempuanku. 3. Aku tidak bisa mendampingi anak laki-lakiku menjalani ulangan umum.

Dua hari menjelang perjalanan dimulai, aku mengikuti technical meeting, dan baru di saat itu aku bertemu dengan orang-orang yang akan berada di sekelilingku selama perjalanan berlangsung. Perlu kusebut di sini yaitu Iqbal, CEO PT Rekarupa yang merupakan komandan tim, kemudian ada Arief atau M. Arief Budiman. Dia adalah CEO PT Petakumpet yang akan selalu memberikan presentasi di setiap kota yang disinggahi. Berikutnya ada Jimmy dan Iwan yang mensupport segala kebutuhan operasional di setiap kota, Rahmat (yang mengikuti perjalanan hanya beberapa kota) kemudian ada Eko sebagai driver. Dari kantorku ada Yudhi sebagai videografer dan aku sendiri yang mengurusi fotografi dan menulis jurnal perjalanan.

Perjalanan ini dibilang sebagian orang sebagai perjalanan gila. Menyinggahi 40 kota dalam 40 hari nonstop. Ini lebih panjang dan melelahkan dibanding perjalananku ke Ranau di Lampung beberapa waktu yang lalu. Tapi tugas adalah tugas dan aku mencoba menikmatinya.

Perjalanan yang diberi label Berbagi Ide Segar 40 hari 40 kota adalah sebuah program untuk memancing tumbuh suburnya pola pikir yang berlandaskan kreativitas. Melalui program ini diharapkan, suatu saat nanti bangsa ini mau dan mampu mengelola sumber daya (manusia/alam) secara tepat, sehingga menghasilkan nilai tambah pada produk/jasa yang dihasilkan. (Paragraf ini dikutip dari website berbagiidesegar.com).

Di setiap kota akan dilaksanakan creative sharing, dalam bentuk seminar ataupun diskusi dengan komunitas yang ada di sana. Jika memungkinkan dilaksanakan juga creative giving dalam bentuk apapun kepada mereka yang dianggap membutuhkan.

Gak banyak yang bisa diceritakan dari perjalanan yang banyak sekali ceritanya. Bodohku, dari awal aku gak bikin catatan perjalanan sehingga saat ini jadi lupa. Parah.. Tapi aku coba cerita dari foto2 saja…

.

#Hari 1, Sleman

Belum keliatan asiknya, masih di dalam kota. Acaranya seminar yang diselenggarakan bareng anak-anak UAJY.

Foto bareng anak-anak UAJY selesai seminar

#Hari 2, Solo

Pagi berangkat ke Solo menuju Rumah Blogger Indonesia. Ketemu anak-anak difabel Solo yang difasilitasi oleh @Blontank Poer. Diskusinya mulai keren. Keterbatasan mereka tidak menghalangi untuk berkarya!

Selanjutnya menuju ke satu daerah di Sukoharjo, di suatu masjid dilakukan pemberian santunan buat anak yatim piatu. Di jalan sempat ketemu rumah produksi batik cap. Sempat berhenti sebentar buat motret.

Diskusi bareng anak-anak difabel di Rumah Blogger Indonesia

Kain mori dijemur. Proses membuat batik cap

#Hari 3, Pacitan

Malam hari, dari Solo menempuh perjalanan sekitar 105 km menuju Pacitan. Jalannya minta ampun, ga bisa dibedain sama sungai kering. Sekitar jam 02.00 dini hari masuk hotel dan beristirahat.

Agenda BIS di Pacitan dibuka dengan seminar dengan tema Mendidik Dengan Hati yang diselenggarakan di Jasmine Gallery, Jl. Kanjeng Jimat no 4, Pacitan. Seminar ini dihadiri oleh guru-guru PAUD, TK, SD hingga SMA yang ada di Pacitan dan sekitarnya.

Apresiasi terhadap seni dari anak-anak di Pacitan sungguh dahsyat. Terbukti, mereka pulang sekolah mampir galeri buat nonton pameran lukisan!

Setelah makan siang di pinggir pantai di sana, kita main ke laut liat orang jaring ikan, motret-motret sekaligus bikin rekaman video gila..

Malamnya, seelah numpang mandi di rumah aspirasi Ibas-nya SBY (halah!) kita balik ke galeri Jasmine buat ketemu sama komunitas seni Pacitan. Di sana ketemu sama Rudi Prasetyo, orang yang diberi amanat mewarisi pekerjaan sebagai wayang beber. Banyak cerita tentang wayang beber ini, semoga besok sempat cerita dalam tulisan tersendiri.

Dahsyat! Anak-anak SD nonton pameran lukisan!

Pagi-pagi keluar kamar hotel sudah ditawarin beli akik

Bareng komunitas seni Pacitan

.

#Hari 4, Ponorogo

Sebenarnya Pacitan – Ponorogo cukup dekat, hanya sekitar 70an kilometer, tapi jalanan yang gak mulus dan berkelok-kelok bikin perjalanan jadi lama. Seperti sebelumnya, sekitar jam 02.00 pagi (dan ini akhirnya jadi kebiasaan, kita masuk kota sekitar jam segitu) sampai Ponorogo, masuk hotel dan langsung beristirahat.

Acara utama di pagi hari adalah seminar di gedung Bappeda di komplek kabupaten Ponorogo yang letaknya hanya di depan hotel, dibatasi oleh alun-alun.

Selanjutnya aku sempat muter-muter cari bakul sate ponorogo untuk ngisi artikel di KP. Interview, motret dan sebagainya.

Yang asyik itu malam harinya, kita datang ke rumah pak Tobroni, seorang tokoh pemerhati seni tradisional yang sempat mencetuskan kalimat kontroversial, “Ponorogo adalah kuburan Reyog!” Kata-kata ini terucap akibat saking geramnya beliau pada bupati dan jajaran pemerintah daerah Ponorogo yang tidak memberi perhatian pada kesenian tradisional di sana. Artikel tentang pak Tobroni lagi aku susun untuk dimuat di KP. Besok kalau sudah published aku susulin link-nya.

Karena sudah terlalu capek, malam ini kita nginep semalam lagi di Ponorogo. Keesokan harinya baru berangkat ke kota berikutnya, Madiun.

Souvenir khas Ponorogo: Topeng Reyog

Ngicipi sate Ponorogo, sayangnya yang direkomendasiin temen warungnya tutup

Mbah Tobroni.. tokoh seni tradisi di Ponorogo

#Hari 5, Madiun

Pagi setelah sarapan, kita meluncur ke Madiun. Deket sih, perjalanan ga ada sejam. Menjelang masuk Madiun, kita belok kanan, menuju hutan wisata Grape. Kawasan ini ada di kaki gunung Wilis. Tempatnya adem karena rimbunnya pohon jati. Lokasi yang dituju bukan taman wisatanya, tapi masih naik lagi, masuk kampung gitu trus sampai di pelataran parkir. Nah, dari situ lewat jalan setapak yang menuruuuunn banget, sekitar sekiloan meter (ini dibangetin soalnya jalannya memang curam banget). Dalam pikiranku saat itu, entar bisa balik ke atas lagi gak ya?

Tempatnya dahsyat!! air terjun sekitar 30 meteran (mungkin) dilanjut aliran sungai penuh batu membuat hasrat main slow speed muncul! Ceprat-cepret ga tau ngabisin berapa frame.

Balik ke atas? Nah bener-bener perjuangan. Setelah beberapa kali berhenti, akhirnya aku sampai mobil dengan setengah hidup. Begitu dapat tempat berbaring, aku langsung tewas entah tidur entah pingsan.

Sore, masuk kota Madiun, tujuan pertama cari pecel tentu saja. Trus malemnya ada diskusi dengan teman-teman komunitas fotografi di sana.

Hutan Wisata Grape Madiun, tempatnya adem..

Puas-puasin main slow speed.. 🙂

Sempat “nggambleh” di depan anak-anak komunitas fotografi Madiun

#Hari 6, Kediri

Dari Madiun meluncur ke Kediri. Di kota ini kita dibantu oleh mas Naim Ali, anak muda yang concern dengan pendidikan, khususnya menumbuhkan minat baca warga di kampungnya. Naim merenovasi kandang kambing milik orang tuanya menjadi perpustakaan. namanya Rumah Baca Mahanani. Buku-buku ia dapatkan dari siapaun yang mau menyumbang. Lebih dahsyat lagi, karena melihat warga kurang merespon perpustakaan ini, ia membeli becak, dan seminggu sekali putar kampung untuk menyodorkan buku-bukunya kepada warga untuk dibaca, gratis! Rumah baca Mahanani ada di Jl. Supiturang Utara 13, Kediri.

Ini dia Naim Ali, anak muda hebat dari Kediri

Muter kampung pakai becak

Monumen Simpang Lima Gumul Kediri, lumayan kontroversial

#Hari 7, Malang

Jarak kota Kediri – Malang sekitar 101 km. Seperti biasa ditempuh pada malam hari. Sempat mampir di jalan, motret kota Batu. Sekitar jam 01.00 WIB sampai di Malang, udah ditunggu teman-teman dari Universitas Brawijaya. Dua mobil kita dikawal rombongan sepeda motor mahasiswa Unibraw, malah kayak konvoi di malam hari.

Dari pagi hingga siang cuma malas-malasan di hotel, sekalian nulis jurnal perjalanan. baru sore harinya kita datang ke seminar yang dilaksanakan di auditorium Universitas Brawijaya. Pesertanya banyak, ceweknya keren-keren. Halah!

Malemnya sempat motret kantor balaikota untuk kepentingan KP, trus dilanjut ke kota Jember.

Pemandangan kota Batu malam hari

Tugu dengan latar belakang kantor balaikota Malang

#Hari 8, Jember

Perjalanan Malang – Jember sekitar 180an kilometer. Jalannya kelok-kelok. Nah, malam ini aku sempat emosi dengan driver mobil yang aku tumpangi. Nyopirnya ngawur bikin penumpang gemetaran. Akhirnya dengan dongkol mobil aku minta berhenti, tukaran tempat, trus jadi deh aku fotografer merangkap driver.

Siang, kita main ke studio Dynand Fariz, markas besar Jember Fashion Carnival. Ngobrol-ngobrol tentang kreatifitas dan macem-macem. Sorenya acara diskusi dilanjutkan lagi di kantin Fisip Universitas Jember. Anak-anak muda di kota ini baru ketahuan ternyata dahsyat! Kontak di sana namanya @Kopi_Cak_Wang

Briefing Jember Fashion Carnival 2012

Suwar-suwir, camilan khas Jember

Cewek ini tau kalo dicolong malah mbasang.. Trus jadi kenal deh.. 🙂

#Hari 9, Tabanan

Sebenarnya kota ke-9 yang akan disinggahi adalah Ubud, namun karena partner lokal tiba-tiba mengundurkan diri akhirnya kita adakan creative giving di panti asuhan di Tabanan.

Setelah perjalanan dari Jember kita menginap di Kuta, Badung.  Sehingga rombongan balik lagi ke arah barat menuju Tabanan. Tapi enggak jauh. Saya gak bisa banyak cerita karena saat itu lagi teler setelah nyopir, sehingga tidur di hotel.

#Hari 10, Denpasar

Pagi hari, cuma aku dan mas Arief yang berangkat ke Denpasar. Lainnya masih pada tidur. Dijemput pak Hari, kami berdua diajak makan pagi di Sanur. Menunya nasi campur. Keren juga dari Kuta ke Sanur cuma buat sarapan. Tapi nasi campur khas Bali ini rasanya tidak mengecewakan.

Siang ada seminar di kampus STIKI Indonesia di Denpasar. Setelah seminar dilanjutkan nongkrong ke Yayasan Wisnu, di Kuta Bali. Di sini kita diskusi dengan komunitas yang mendukukung pariwisata tanpa harus merubah sawah menjadi bangunan permanen. Asik..

Malam, kita bergerak ke studio Lingkara, berdiskusi dengan teman-teman dari Asosiasi Disain Grafis Indonesia di Bali. Ternyata, meski mereka tinggal di Bali, belum tentu seniman asli Bali, dan kebanyakan mereka kuliah di ISI Yogyakarta. Walah, malah koyo ngongkrong neng angkringan omah!

Selesai diskusi, kita langsung bergerak menuju ke Gilimanuk, kembali menyeberang ke pulau Jawa.

Warung nasi Campur di Sanur, pagi-pagi sudah ngantri

Buset.. bule di pantai Kuta ini bikin ngiri..!!

Bengong di ferry, saat nyeberang ke Banyuwangi

Sepuluh kota dalam sepuluh hari sudah dilalui. Masih ada 30 kota lagi. Capek tapi seneng.. Terusannya disambung ke jilid 2 ya…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s