Semangat Pak Tua Dari Ponorogo

Namanya Haji Achmad Tobroni Torejo, biasa dipanggil mbah Tobroni. Usianya sekitar 76 tahun, rambutnya sudah memutih namun sosoknya masih terlihat gagah dan segar. Beliau adalah seorang tokoh pelestari budaya seni tradisi di Ponorogo, khususnya kesenian reyog.

Mbah Tobroni lahir tahun 1936 di Ponorogo. Sejak kecil hidupnya berada dalam lingkungan yang sangat mengapresiasi seni budaya reyog. “Pada jaman dulu, tiga orang membunyikan gamelan mampu mengundang banyak orang dengan cepat,” kata beliau. Orang-orang akan menghentikan aktifitasnya dan menuju ke sumber bunyi gamelan untuk berkumpul, ikut menari atau nembang atau sekedar menonton. Begitu pula Tobroni muda. Saat itu hanya mendengarkan gamelan saja dia sudah seneng. Dan kecintaan pada kesenian itu semakin berkembang manakala ia tumbuh dewasa.

Selepas kuliah dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Tobroni muda pulang ke Ponorogo dan kembali menggeluti aktifitas kesenian yang memang sudah ia cintai sejak kecil. Tobroni menggerakkan kesenian reyog di desanya dan aktif bergabung di Barisan Reyog Ponorogo. Kesenian reyog tumbuh subur, dari 33 desa di Ponorogo terdapat 467 kelompok kesenian reyog.

Namun pada tahun 1963, Tobroni merasa gerah. Ia melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang tidak pas di dalam Barisan Reyog Ponorogo. Kelompok itu telah disusupi oleh PKI. Oleh sebab itu ia memutuskan keluar, diikuti 28 group reyog yang berasal dari lingkungan desa yang agamis. Keputusan itu membuat ia dimarahi oleh teman-teman yang masih aktif di dalam barisan. Saya dibilang “kemethak,” kata mbah Tobroni. Namun beberapa bulan kemudian teman-teman tersebut beserta 67 kelompok reyog yang lain juga ikut keluar karena tidak nyaman dengan nuansa politis yang melingkupi Barisan Reyog Ponorogo. Mbah Tobroni dan teman-teman membentuk KRIS atau Kelompok Reyog Islam, sementara yang nasionalis membentuk BREN (Barisan Reyog Nasionalis).

Ketidaknyamanan tersebut terbukti manakala terjadi peristiwa G 30 S/PKI di tahun 1965. Hampir semua pengurus terlibat. Saat itu banyak warok ditangkap karena dianggap ikut terlibat organisasi terlarang PKI. Hal ini mengakibatkan trauma yang cukup dalam, membuat orang-orang enggan untuk memainkan kesenian reyog. Gambang Reyog tidak berbunyi. Kesenian reyog Ponorogo menjadi mati suri.

Barulah setelah usai pemilu pada tahun 1971, kesenian reyog mulai menggeliat lagi. Suara gamelan mengundang masyarakat untuk berkumpul kembali. Suara gamelan reyog dari berbagai desa kembali berkumandang. Mbah Tobroni aktif mengembangkan kesenian Reyog di Ponorogo. Bersama para warok yang tergabung dalam warok Cokromenggalan, Mbah Tobron berusaha melakukan pembaharuan dalam pertunjukan maupun organisasi kesenian. Bersama para aktifis lain membuat pedoman tari reyog dan menyelenggarakan festival tahunan kesenian reyog. Aktifitasnya sebagai lurah selama 21 tahun dan anggota DPRD Ponorogo selama 2 periode tidak mengurangi perhatiannya pada kesenian tradisi.

Mbah Tobroni juga mengembangkan kembali kesenian gajah-gajahan. Tidak ada niatan tertentu, hanya dilandasi oleh rasa senang. Senang saat dalam keadaan ekonomi yang sulit, masyarakat masih bisa mendapatkan hiburan. Bahkan akan menjadi lebih baik bila kesenian ini juga bisa menghidupi masyarakat pelakunya. Saat itu di Ponorogo ada 45 group gajah yang tidak terperhatikan. Namun pemimpin daerah tidak menghiraukan. Berkali-kali Tobroni mengusulkan agar kesenian gajah dan reyog diperhatikan. Namun, sikap pemimpin yang kurang mendukung kesenian tradisional di Ponorogo membuat mbah Tobroni kecewa. Akhirnya aktifitas seni tradisi di Ponorogo kembali mati suri. Satu pernyataan keras mbah Tobroni adalah ketika ia mengatakan, “Ponorogo sudah bukan lagi bumi reyog, namun kuburan reyog!” Pernyataan yang mengungkapkan kekecewaan.

Selain reyog dan gajah-gajahan, mbah Tobroni juga mencoba menghidupkan kembali Shalawatan. Setiap malam Jumat Legi ia menggelar Shalawatan di rumahnya, setelah muncul keprihatinan dari sejumlah kiai tentang tradisi Shalawatan ini yang mulai luntur.
Ide awal penggiatan kembali kegiatan shalawat ini berasal keprihatinannya terhadap salah satu aset seni Islami. Upaya pelestarian seni budaya Islam yang digagas oleh Mbah Tobroni bukan hanya untuk kepentingan dirinya. “Kalau lestari tentunya anak cucu kita masih akan mengetahui kesenian Islam Musik Shalawatan sehingga tidak punah,” imbuhnya.

Mbah Achmad Tobroni Torejo, meski sudah tua namun hingga kini semangat melestarikan kesenian tradisional masih menyala. Di sela-sela usahanya menjalankan restoran Bantar Angin – nama yang ia ambil dari kisah kesenian Reyog – Mbah Tobroni masih sibuk untuk menggerakkan kesenian tradisional Ponorogo. Semangat yang bisa menjadi tauladan bagi kaum muda.

.

Note: Berkunjung ke rumah Mbah Tobroni pada tanggal 23 Mei 2012 dalam rangkaian Ekspedisi Berbagi Ide Segar 40 Hari 40 Kota

.

Advertisements

3 comments

  1. mbah Tobroni adalah salah satu dari sekian banyak penggiat kesenian reyog di Ponorogo yang kini usianya diatas 70tahun. masih ada penggiat reyog lain dan tidak pernah diekspos dan tidak mau diekspos.

    salam kenal.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s