Telaga Sunyi DI Hutan Jati

pengilon1

Kedung Pengilon. Namanya mirip telaga Pengilon di Dieng. Sah-sah saja sih, karena nama itu juga enggak dipatenkan. Ide penamaan juga sama, karena mungkin air dari kedung atau telaga itu bisa buat ngaca. Ah, menurut saya lebih kepada bila air tenang bisa membuat refleksi dari benda-benda di atasnya. (air tenang di manapun juga gitu kali..)

Lokasinya ada di dusun Petung, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, Bantul. Yang asik sebetulnya adalah perjalanan menuju ke sana. Jalanan aspal halus yang menanjak, melalui rumah-rumah desa dan hutan jati. Suasananya adem dan sangat cocok bagi orang yang lagi pengen ngilangin sumpek. Susah juga ngasih arah ke sana. Karena saya sendiri sempat berhenti untuk tanya pada penduduk ada sekitar empat kali. Intinya, dari Kasongan ke barat sampai perempatan Bangunjiwo. Lurus ikuti jalan ke barat sampai mentok ada pertigaan. Bila ke kanan arah Sedayu, ambil jalan yang ke kiri. Maju sekitar 1 km ketemu dengan pertigaan yang di tengahnya ada pohon beringin. Belok kiri sekitar 500 meter, di sebelah kanan akan ada jalan kampung yang sudah dicor beton. Masuk hingga ada papan petunjuk lokasi.

Belum ada tempat parkir khusus. Kendaraan bisa dititipkan pada penduduk sekitar kemudian jalan kaki. Jalanan tentu saja menurun dan berkelok-kelok, melewati pepohonan jati. Oiya, jangan lupa bekal air mineral karena di sana tidak ada satupun warung. Hingga akhirnya akan ketemu sungai kecil yang mengarah ke air terjun. Ada jembatan bambu yang menurut saya lucu, tapi rada mengerikan juga karena bambunya sudah tua. Rasanya tiba-tiba pusing setelah menyeberang. Tegang!

Kedung atau telaga kecil ini tidak begitu luas. Berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 15 meter. Namun jangan main-main, karena meskipun kecil tetapi kedalamannya mencapai 8 meter. Airnya berwarna biru gelap, menunjukkan bahwa kolam ini cukup dalam. Bagi orang yang tidak bisa berenang, apalagi anak-anak tidak disarankan bermain mendekat ke kedung ini. Memang bukan atau belum menjadi tempat wisata, sehingga tidak ada fasilitas apapun di tempat ini. Di musim kemarau ini air yang mengalir memang sedikit. Namun pada musim penghujan, air melimpah dan air terjun setinggi 10 meter akan menumpahkan airnya dengan indah.

Tempatnya berada di tengah hutan jati, sepi namun bukan berarti tidak ada kehidupan. Beberapa penduduk sesekali melintas setelah mencari rumput. Kadang juga ada rombongan datang untuk memancing di telaga ini. Konon, karena jarang dijamah, ikan di kedung ini masih banyak dan berukuran besar. Iya sih, sekilas saya sempat melihat ada ikan lele berenang yang mungkin seukuran lengan orang dewasa.

Saya sempat ngobrol dengan mbah Gito, yang katanya adalah pemilik lahan di mana kedung ini berada. Banyak hal-hal mistis yang diceritakan oleh beliau. Well, namanya juga orang dulu. Tidak wajib untuk mempercayainya, namun tidak ada salahnya untuk berhati-hati, tidak melakukan tindakan dan berucap yang tidak pantas.

Bagi yang pengen tenang mencari inspirasi, tempat ini cukup direkomendasikan. Bayangin aja, duduk ngadep laptop dengan bekal makanan dan minuman yang cukup barangkali bisa menghasilkan karya yang hebat, apapun itu. Tapi jangan lupa agar baterai diisi full karena di sana tidak ada colokan listrik.. 😆

 

Repost from previous blog

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s