Mensikapi Hidup

Ini sebenarnya adalah tulisan tahun 2010, saat masih suka fb-an dan nulis note di sana. Kebetulan tadi didatangi seorang sahabat. Dia datang dalam kondisi yang sama seperti saat sekitar empat tahun lalu menemuiku, dan waktu itu menginspirasi aku membuat tulisan ini. Setelah ngobrol tadi, tiba-tiba aku pengen repost tulisan ini dengan sedikit edit, disesuaikan dengan kondisi sekarang.

———————————————————————————————————————————

“hidup ini mungkin seperti teater,
hanya saat gelap dalam pergantian setting panggungnya kelamaan”
(Ngawurtenan 14:10:2010)

Bukannya mau mengeluh, tapi heran, kok ingat terus dengan kata-kata itu. Awalnya tadi pagi dini hari, aku ngobrol dengan teman yang sama-sama  lagi enggak bisa tidur. Aku mengenal dia beberapa tahun lalu, saat aku masih berkecimpung di bidang desain grafis, sama seperti dia. Kami ngobrol macam-macam, dari yang ringan sampai yang dalem-dalem. Tentang pekerjaan, rejeki, hingga mendadak menjadi filsuf bahas tentang kehidupan yang memang enggak mudah. Akhirnya dia bercerita soal usahanya yang kacau balau, hingga berimbas pada kehancuran rumah tangganya. Pekerjaan yang dahulu begitu melimpah tiba-tiba hilang, diganti sejumlah debt collector yang rajin datang mencarinya. Seorang sahabat yang beberapa tahun lalu secara finansial begitu hebat, yang kupikir aku tidak akan mampu menyamai posisinya, ternyata justru dia yang “turun” untuk menyamai posisiku. Oh, bahkan mungkin saat ini aku harus bersyukur karena masih mampu untuk sekedar traktir makan dan rokok untuk dia.

Setelah mendengar banyak cerita dari dia, aku hanya bisa mengulang apa yang aku sampaikan padanya empat tahun lalu, menyemangati dia. Mengingatkan akan masa kejayaan dia dan membakar ambisi dia untuk meraihnya kembali. Hidup menuntut kita untuk senantiasa bergerak. Entah maju, mundur, naik atau justru turun, tergantung dari sikap dan usaha kita. Kucoba mengingatkan dia. Jelas dia tahu sekali saat aku mendapat giliran jatuh terpuruk. Namun juga kutunjukkan bahwa aku selalu bergerak. Bukan pamer karena memang tidak ada yang layak dipamerkan. Aku ceritakan tentang prosesku bergerak. Memang lambat, bahkan berulang kali harus jatuh, namun alhamdulillah puji Tuhan sekarang bisa berdiri, belum tegak tapi setidaknya – seperti yang kusebut di atas – mampu untuk sekedar traktir makan dan rokok untuk dia.

“Kehidupan yang tak teruji bukan kehidupan yang berharga bagi seseorang”, kutipan Plato dari kata-kata Socrates bisa dipakai sebagai penyemangat agar jangan sampai nglokro dan pesimis. Berdasar pengalaman, akhirnya aku sendiri berusaha menganggap bahwa seneng, susah, gagal atau sukses adalah bagian dari proses kita menjalani hidup. Bahkan untuk membesarkan hati, aku coba berpikir bahwa orang yang punya kehidupan mulus serta aman-aman saja justru membosankan. Efek petualangannya gak ada. Haha.. meski kadang aku juga mendambakan hidup nyaman, segala kebutuhan tercukupi,  ada yang nemenin dan buatin kopi.. Kenyataannya jalan yang dilewati sungguh “pating brocel” enggak karuan. That’s life.. 😀

Pelajaran yang bisa kupetik adalah bahwa ujian kehidupan tidak selalu berarti hidup menderita atau serba kekurangan. Tak bisa dipungkiri, manusia adalah jenis mahluk yang rakus dan selalu ingin lebih. Diberi satu minta dua, diberi dua minta empat dan lebih dan lebih. Justru (menurutku) inilah ujian yang sesungguhnya. Dalam kondisi yang “cukup” bagaimana cara menahan diri, untuk enggak aneh-aneh, apalagi hanya ingin memuaskan keinginan duniawi.

Ada saran sok bijak yang aku sendiri heran bisa sampaikan ini ke dia dan sepertinya harus aku jadikan pegangan juga. Yang pertama adalah hiduplah dalam dunia saat ini, bukan selalu terperangkap di masa lalu. Namanya juga masa lalu tentunya sudah lewat. Meskipun masa lalu begitu indah dan menyenangkan tetap saja ada di belakang. Sementara realita saat ini adalah bagaimana makan siang nanti, beli pulsa, beli bensin dan sebagainya yang tidak bisa diselesaikan dengan kisah masa lalu. Lebih baik bermimpi untuk masa depan daripada bernostalgia namun tidak memperbaiki keadaan.
Berhenti mengeluh dan meratapi nasib. Seburuk apapun yang didapat saat ini musti diterima dengan lapang dada, meskipun pada kenyataannya masih belum mencukupi kebutuhan. Keadaan bisa dirubah dengan tindakan, bukan keluhan.
Tenangkan diri dan selesaikan masalah satu per satu. Sungguh berat bila harus menghadapi sekian masalah dalam waktu yang bersamaan. Akan lebih baik bersikap realistis bahwa jauh lebih mudah mengatasi masalah satu demi satu.
Yang paling mendasar adalah bersyukur. Sekecil apapun karunia yang diterima, itu adalah pemberian Tuhan. Dan karunia yang kecil itu dijadikan modal semangat dalam berusaha meraih hal-hal yang lebih besar. Dan kalau punya agama sebaiknya juga berdoa. Gusti ora sare..

Trus, akhirnya aku coba mengutip seseorang teman yang lain tentang konsep Cakra Manggilingan. Hidup berputar seperti roda yang hanya bisa bergerak mengikuti porosnya. Dalam kehidupan ini, Tuhan sebagai poros yang mengatur roda kehidupan kita. Kadang kita berada di atas, tentu saja nyenengin. Namun ada masa harus di bawah. Saat aku sampaikan konsep ini akhirnya kita ketawa bareng karena membayangkan pas giliran di bawah malah susah bergerak naik. Ternyata rodanya enggak muter karena terganjal sesuatu.. 😀

“The unexamined life is not worth living for man”
(Socrates, Dialogues – Apology)

Thanks to TNH atas inspirasi Cakra Manggilingan-nya…

Advertisements

9 comments

  1. Terima kasih buat ulasan yang mendalam dan betul-betul membuka mata ini, Mas :)). Saya bersyukur karena saya membaca tulisan ini di saat yang tepat :hehe brb bookmark.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s