Sampai Kapan Sawah Akan Bertahan?

sawah_01

Apapun yang hijau, kadang termasuk mbak cantik berbaju hijau, bisa menjadi solusi capeknya mata setelah dipaksa mantengin layar monitor di PC atau lapotop. Saya biasanya keluar kamar trus membiarkan mata memandang hijaunya daun. Hhmmm iya sih, kenyataannya baik di kosan maupun studio adanya cuma hijau daun bambu. Apes..
Tapi bila pas longgar waktu dan benar-benar sudah suntuk, saya biasanya lari eh, naik motor ding.. ke arah Godean di mana masih banyak persawahan yang asik banget buat ngademin mata.

Kadang terbersit sampai kapan lahan persawahan ini masih bisa bertahan. Berdasar data dari Bappeda DIY, setiap tahun 245 hektar sawah di DIY diurug dan dijadikan area permukiman. Mantabs! Memang sih, bukan melulu salahnya pengembang perumahan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, baik penduduk asli maupun pendatang, kebutuhan akan permukiman juga meningkat. Tentunya lahan persawahan yang menjadi korban.

Generasi muda sekarang yang relatif berpendidikan tinggi, minimal sarjana, cenderung menginginkan pekerjaan di kantor. Minat generasi muda untuk menjadi petani sudah merosot mungkin juga mempercepat proses alih kepemilikan sawah dari petani ke pengembang. Hal ini tidak hanya terjadi di Jogja. Mungkin areal persawahan di pulau Jawa lambat laun akan mengalami hal yang sama.

Trus sampai kapan sawah-sawah yang asik ini bisa bertahan? Entah..
Perlu ditanyain ke pak Jokowi nggak? 😀

Advertisements

13 comments

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s