Aku Bukan “Itu”

water_01

Di sungai yang sudah tidak jernih, di kolong jembatan, ia duduk terpekur..
Di sungai? ya.. tepatnya di atas karamba – entah milik siapa – di sungai bau dekat rumah, ia duduk sendirian di sana..
Suara kendaraan yang melintas di atas, tak mengganggu. Kecipak ikan di bawahnya menjadi lagu pengiring lamunan. Ia sudah tidak peduli sekitarnya..
Dihembuskan asap rokok dari mulut, membentuk lingkaran yang segera dibuyarkan angin..
Aneh, beberapa hari ini ia sudah tidak bisa merasakan nikmatnya rokok..
Tapi ia tetap beli dan sekedar menyulut, menghisap dan membuang asapnya. Ia menghargai rokok yang sudah sekian lama setia menemani waktu sepi. ia tidak ingin mencederai kesetiaan itu. mungkin..

Pandangan laki-laki itu tertuju pada kotoran manusia yang hanyut dan berhenti tepat di depannya. Terjebak pusaran arus kecil.. berputar-putar tanpa daya. Dipandangi kotoran itu, dibayangkan betapa tersiksa si tinja, tak mampu melepaskan diri dari pusaran yang menelikungnya. Ia hanya pasrah, menyerah, mungkin nasibnya akan habis di sana.. dikerumuni ikan-ikan kecil yang berpesta… bak piranha..
Tanpa rasa jijik, laki-laki itu mengambil galah pengait sampah yang ia temukan di sampingnya. Ia ayunkan ke air membuat kecipak, menimbulkan gelombang yang membuyarkan pusaran air di depannya..
Mungkin karena lega, tanpa sempat berterima kasih, kotoran yang baru saja bebas itu meneruskan perjalanan mengikuti aliran air. Entah, apakah mampu sampai ke laut atau hancur di tengah jalan..

Disulutnya rokok yang kesekian, dan membayangkan dirinya yang terjebak pusaran kehidupan. Laki-laki itu telah merasa kalah, sendirian, serasa tak mampu menanggung beban. Lama ia termenung, hingga menghabiskan tiga batang rokok.. Pikirannya berkutat pada hidupnya yang sekian waktu seakan terjebak tak mampu bergerak, Ia tersenyum membayangkan dirinya sebuah tinja. Tapi tidak, ia mungkin pernah rendah layaknya tinja, tapi ia masih mampu berusaha..

Satu kesadaran baru telah muncul.. ia punya otak dan mampu bergerak.. yang dibutuhkan hanya semangat. “Asu, aku harusnya bisa,” umpatnya. Ia selama ini terlena oleh ketidakmampuan dan mengharapkan bantuan. Aleman.

Segera ia berdiri di atas karamba, menyalakan batang kesekian.. berkacak pinggang.. ia mencari kotoran manusia yang barangkali melintas. Tak ada.. Beringsut ia berjalan ke tepi sungai meniti karamba di sekitarnya. Sampai di tepi, pandangannya kembali diarahkan ke sungai.. Sekali lagi ia tersenyum dan bergumam, “Aku bukan tinja!”

Kadang Tuhan memang suka iseng menggunakan cara yang aneh untuk membukakan mata umatNya. Nuwun Gusti…

 

repost: fb, 03-06-2010

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s