Ruwatan Anak Bajang

bajang_01

Rambut gimbal identik dengan rasta, reggae dan Bob Marley. Banyak anak muda yang mengikuti trend dengan “menggimbalkan” rambut mereka, entah dengan cara menyambung rambut baru atau lainnya yang sejujurnya sampai sekarang saya enggak paham maksudnya. Normalnya orang pengen rambutnya rapi dan bersih. Tapi yang ini malah dibuat gembel seakan enggak mampu beli shampoo. Oiya, meski seorang teman bersikeras bahwa dia rajin keramas, saya tetap enggak yakin bahwa rambut mereka bakal benar-benar bersih.

Lepas dari mereka yang menggimbalkan diri, di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah terdapat fenomena anak berambut gimbal atau biasa disebut anak bajang. Anak-anak ini konon, pada awalnya memiliki rambut normal seperti anak-anak yang lain, hingga suatu saat mereka terserang demam dengan panas badan yang tinggi. Kondisi tersebut tidak bisa diobati hingga anak tersebut sembuh dengan sendirinya, namun rambut sang anak berubah menjadi gimbal.

bajang_05

Menurut cerita pemangku adat dan sesepuh masyarakat Dieng, Mbah Naryono, anak-anak dengan rambut gimbal adalah sebuah takdir.  Mereka adalah titisan dari Ki Ageng Kolodete dan Nini Ronce Kolo Prenye, sepasang lelulur penduduk dataran tinggi Dieng yang hidup pada abad ketujuh. Sebagai titisan leluhur, anak berambut gimbal dianggap istimewa. Namun permasalahannya adalah bahwa proses rambut menjadi gimbal sangatlah menyakitkan. Setidaknya si anak akan selalu mengalami sakit panas hingga seluruh rambutnya menjadi gimbal.

Proses ini bisa dihentikan. Anak-anak berambut gimbal bisa berubah menjadi normal setelah melalui prosesi ruwatan. Namun ruwatan ini hanya bisa dilakukan bila si anak menghendaki. Dan sebelum dicukur, si anak mengajukan permintaan tertentu yang wajib dipenuhi. Setiap anak berbeda permintaannya. Ada yang sederhana seperti sekedar minta es krim, sepeda, kalung dan gelang emas, atau sekeranjang buah apel yang baru saja keluar dari kulkas, kambing atau bahkan yang sangat sederhana sekali, misalnya sebutir buah rambutan. Orang tua wajib menuruti permintaan si anak. Ada satu cerita, seorang anak gimbal menyebut minta wayang. Dalam benak si orang tua adalah seperangkat wayang kulit lengkap yang harganya puluhan juta, sehingga orang tua si anak harus menangguhkan proses ruwatan. Setelah sekian tahun menabung, dan si orang tua merasa mampu menyediakan syarat tersebut, ternyata yang dimaksud si anak adalah wayang mainan yang terbuat dari kertas karton yang bisa dibeli di pasar seharga kurang dari lima ribu rupiah!

Namun ada juga permintaan yang sulit dipenuhi. Ada seorang anak yang minta dicarikan ular sebesar kendang. Ular piton terbesar yang pernah ditemukan di Jawa pun diameternya tidak sebesar itu. Hingga akhirnya anak itu tumbuh menjadi dewasa dan tua, tanpa mampu diruwat.

bajang_03

Masyarakat meyakini, apa yang diminta dari anak gimbal ini adalah permintaan dari sang gimbal yang telah menyatu dengan jiwa sang anak. Mereka menjadikan sang anak sebagai perantara. Bila permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi maka si anak akan mengamuk dan menolak untuk diruwat, seperti yang terjadi pada cerita di atas.

Proses awal adalah dilaksanakan acara kirab. Berangkat dari rumah pemangku adat di Dieng Kulon menuju kompleks candi Arjuna. Dalam porsesi kirab trsebut, rombongan sempat berhenti di kawasan Sendang Sedayu, di mana si anak bajang tersebut dicuci rambutnya. Proses pencucian rambut dipimpin langsung oleh pemangku adat dengan membacakan mantra-mantra khusus.

bajang_04

bajang_02

Selanjutnya rombongan bergerak menuju kompleks candi Arjuna untuk dihibur dengan berbagai atraksi kesenian tradisional. Setelah itu memasuki acara utama, yaitu pencukuran rambut gimbal. Acara ini dilaksanakan tepat di depan candi Arjuna, yang sudah disiapkan berbagai sesaji, meliputi tumpeng, gunungan ketupat, ingkung ayam , gunting, mangkuk dan air berisi bunga setaman, beras, uang, jajan pasar dan lain-lain, termasuk benda-benda permintaan anak yang diruwat.

Satu per satu, anak yang diruwat digendong menuju candi. Dipimpin oleh pemangku adat, rambut gimbal si anak dipotong dan dimasukkan ke dalam guci tanah liat. Lama pemotongan rambut ini tergantung dari berapa banyak rambut gimbal yang dimiliki si anak. Semakin banyak tentunya akan semakin lama. Setelah selesai dicukur permintaan si anak segera diserahkan. Potongan rambut tersebut kemudian dilarung di telaga Warna yang bermakna, dipulangkan gimbal kepada yang menitipkan yaitu Ki Ageng Kolodete.

Tradisi ruwatan anak gimbal ini adalah prosesi yang rumit namun tidak disangkal telah mampu menjadi aset wisata tradisi di dataran tinggi Dieng  (2090mdpl). Kemasan prosesi yang dilakukan di kawasan wisata alam ini menjadi kombinasi wisata yang sangat layak dijual.
bajang_06

Advertisements

3 comments

  1. Sayang jadwal saya kemarin bentrok dengan perayaan ini jadi saya belum bisa ikut tripnya sok sibuk :haha, mohon maaf ya Mas, semoga tahun depan bisa ke sana dan ada personil dari sini yang bisa diajak :hehe. Dirimu tumben muncul dan baru-baru sudah dengan reportase bagus dan foto ciamik begini, sumpah saya suka langit birunya!

    Tapi anak-anak yang sudah diruwat, rambut gimbalnya konon juga tidak kembali ya, Mas? Hm, ini menarik… tapi bagaimanapun ini keunikan budaya yang dimiliki masyarakat itu, jadi kadang kita cuma perlu menghormati tanpa perlu menelisik lebih dalam untuk mencari jawab dari tanya mengapa ini bisa terjadi :hehe.

    Liked by 1 person

      1. Tak apa Mas, saya juga kalau sibuk suka meninggalkan blog tanpa berita :haha.
        Hm… ah, tapi kadang dibiarkan sajalah fenomena seperti ini sebagai salah satu kekayaan budaya nusantara :haha :p.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s