Mungkin Cuma Belum

suramadu_02

Lumrahnya manusia pasti menginginkan sesuatu, entah apapun wujudnya. Misalnya nih, Badu pengen smartphone yang canggih, bisa buat internetan, ada tv, radio, kompor gas dan kulkas. Sophisticated! Tentunya segala daya upaya ia lakukan. Menabung, nyari tambahan penghasilan untuk bisa mendapatkan gadget idaman. Namun, bisa jadi karena saking canggihnya, harga barang idaman tersebut jadi mahil banget hingga Badu tak mampu membelinya. Kecewa.

Cerita lain lagi saat seseorang ingin mendapatkan posisi tertentu di kantornya. Ia berusaha bekerja rajin, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik, kadang sesekali caper pada atasan. Hingga pada suatu saat, justru rekan kerjanya yang dipromosikan menduduki jabatan tersebut. Bukan dia. Kecewa.

Memang manusiawi sekali bila pengen punya barang bagus, pergi ke tempat yang asik, pekerjaan yang baik, pasangan yang baik dan sebagainya, dan bakal berusaha mati-matian untuk meraihnya. Namun bila akhirnya tidak tercapai, ada yang lantas kecewa, larut dalam kesedihan dan hopeless. Ada juga yang kemudian mencari kambing hitam, menyalahkan faktor-faktor selain egonya.

Tak mampu? Sebaiknya dibaca dengan perspektif positif menjadi belum mampu

Cerita akan menjadi lain bila ia mau menerima bahwa yang diidamkan ternyata tidak tercapai. Legowo, mau mengakui kelemahan diri (dan menerima kelebihan orang lain). Enggak mudah sih, namun bila mampu berbesar hati, bisa meredam emosi, enggak uring-uringan tentunya akan menghemat tenaga dan fikiran.

“Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Manusia wajib berusaha, namun Tuhanlah yang menentukan. It doesn’t mean that kemudian kita hanya pasrah, duduk, diam dan rajin berdoa tanpa berusaha. Peruntungan, rejeki serta kehidupan yang baik memang perlu diupayakan. Namun bila gagal atau hasil tidak seperti yang diharapkan, introspeksi diri adalah cara yang terbaik. Mengatur strategi baru atau lupakan dan berupaya meraih target lain.

Kegagalan bukanlah bencana yang harus diratapi. Kadang manusia lupa, bahwa Tuhan selalu memberi apa yang terbaik untuk umatNya. Entah besok, lusa, tahun depan atau justru Tuhan telah memberikan namun manusia tidak menyadarinya. Jadi, sukses atau tidak sukses, menang atau kalah, besar atau kecil, atau apapun hasilnya adalah raihan yang layak disyukuri. Tetap ada nilai positif yang diraih dari pencapaian itu.

Mungkin memang belum, mungkin juga memang Tuhan punya agenda lain yang lebih istimewa.

 

*Kenapa gua jadi alim gini? 😀

Advertisements

9 comments

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s