Ujungan: Tradisi Sabet Rotan

ujungan_01

Untuk mempercepat datangnya hujan, lawan dihujami pukulan menggunakan tongkat rotan hingga mengeluarkan darah. Semakin banyak darah yang keluar akibat pukulan, makin cepat pula hujan akan turun.

Itu adalah mitos yang diyakini dalam tradisi Ujungan. Tradisi ini dikenal di daerah Banyumas dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Bila musim kemarau berkepanjangan dan warga sudah kesulitan air, mereka melakukan tradisi Ujungan dengan tujuan mohon kepada Tuhan agar turun hujan.

ujungan_04

Ujungan adalah seni tradisi yang dilakukan oleh dua orang laki-laki yang berusaha saling pukul / sabet menggunakan rotan sepanjang sekitar 40cm yang disebut rancak. Yang boleh disabet hanya bagian lutut hingga telapak kaki. Seiring berjalannya waktu, Ujungan telah menjadi seni tradisi dan menjadi tontonan yang menarik.

ujungan_02
Sebelum “pertandingan” dimulai, seorang tokoh melakukan doa mohon keselamatan dan kelancaran acara. Berikutnya dia akan memanggil pemain yang akan bertanding, menyampaikan nasehat dan tata tertib. Ia pun memberi contoh bagaimana cara memukul dan menghindar. Kesemuanya disampaikan dalam bahasa daerah khas Banjarnegara yang tidak jauh berbeda dengan logat Banyumas yang lazim disebut bahasa ngapak. Sounds so funny! 😀

Para pemain mengenakan pelindung kepala, pelindung tangan, serta penutup perut, yang bertujuan untuk keselamatan. Tangan kanan memegang rancak pemukul bertali yang dikalungkan di pergelangan tangan, sedangkan tangan kiri mengenakan pelindung dan diangkat tinggi agar tidak terkena pukulan. Mereka tidak asal bertanding, karena ada wasit yang disebut Wlandang, yang memimpin pertandingan tersebut. Wlandang ini mempunyai kuasa melerai, menghentikan dan melanjutkan pertandingan. Di tengah permainan, para pemain akan bertukar rancak pemukul yang disebut Uluk Ujung.

ujungan_03
Kedua pemain melakukan tarian sambil sesekali menyerang kaki lawan atau menghindar dari pukulan. Kadang mereka menarikan gaya mengejek dan menggoda lawan seakan tak terkalahkan. Kocak! Tarian ini diiringi dengan gamelan sederhana berupa kendang, kempul, saron dan sinden yang menembangkan lagu-lagu semangat dan doa.

Bila pertandingan dirasa cukup, wlandang akan menghentikan pertandingan dan kedua pemain diminta untuk saling berjabat tangan dan tidak menyimpan dendam. Tradisi Ujungan di desa Gumelem, kecamatan Susukan di kabupaten Banjarnegara menjadi seni tradisi yang menjunjung tinggi nilai sportivitas dan persaudaraan.

By the way, saat pementasan seni tradisi Ujungan di Gumelem Ethnic Carnival kemarin cuaca cukup terik, namun setelah acara selesai tiba-tiba turun hujan deras. Entah efek dari Ujungan tersebut atau memang sudah musimnya. Wallahualam.. 😀

Ini videonya, karya buos Suryaden di event Gumelem Ethnic Carnival kemarin…

Advertisements

13 comments

  1. Iya, agak ekstrem pertunjukan ini. Mereka pada berdarah tidak, Mas? Tapi setelahnya turun hujan, mungkin doa semua orang siang itu diterima :)).
    Eh ngomong-ngomong di Bali juga ada sih, perang pudak namanya, tapi kalau yang di Bali itu, yang disabet punggung dengan pandan berduri :hehe. Memang kaya negeriku ini dengan kesenian ekstrem.

    Liked by 1 person

      1. Mirip-mirip, Mas. Nggak spesifik buat meminta hujan, tapi memang itu dilakukan sebagai persembahan buat Dewa Indra (yang menguasai hujan) dan dilakukannya juga di awal musim hujan (sekitar November, kalau saya tidak salah).

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s