Dolan Ke Lereng Lawu #1

kranyar

Liburan Natal tahun ini saya berturut-turut membahagiakan diri dengan dolan, jalan-jalan. Anu, gak sepenuhnya dolan deng. Ada kerjanya juga. Tanggal 24 Desember saya jalan ke Karanganyar, berikutnya tanggl 25-26 Desember saya ke Dieng. Yang terakhir ini sebenarnya ada urusan dengan kerjaan, nyiapin paket malam tahun baru di sana. Whatever, yang penting saya bahagia, meski capek πŸ˜€

Ke Karanganyar, Jawa Tengah adalah agenda dadakan. Pada awalnya hanya pengen cari tempat yang sejuk dan adem buat nenangin pikiran. Rencananya ke kebun teh di Kulon Progo. Tapi entah kenapa mendadak muncul wacana ke kebun teh Kemuning di Karanganyar. Dan, kalau sudah sampai sana, kenapa enggak jalan-jalan ke lokasi lain di lereng gunung Lawu? Tiba-tiba hari berikutnya langsung cus ke sana.

Perjalanan nekat, maksudnya di musim liburan seperti ini jalanan pasti macet. Itulah kenapa diputuskan untuk berangkat pagi-pagi, setelah Subuh. Keputusan yang tepat, karena perjalanan Jogja – Solo – Karanganyar cukup lancar. Jalanan yang masih sepi membuat kaki rasanya sayang untuk injak pedal gas rada nanggung. Kami berangkat berdua, dan penumpang sebelah yang diharapkan jadi navigator justru malah bikin ribet dengan teriakan, komentar dan segala bawelnya. Standard banget seperti awas, jangan ngebut, awas, ati-ati, awas lagi, dan segala macam yang bikin sebel di telinga sopir.. πŸ˜€

Sekitar jam 8 pagi sudah sampai di destinasi pertama, yaitu candi Sukuh. Sayang sekali candi utama sedang direnovasi sehingga enggak bisa mengambil ambil gambar candi yang bentuknya mirip dengan candi suku Maya di Yucatan, Mexico.

kranyar-01
Yang menarik, di gerbang yang berbentuk paduraksa ini, di lantainya terdapat pahatan yang menggambarkan phallus dan vagina dalam bentuk yang nyata yang hampir bersentuhan satu sama lain. Pahatan tersebut merupakan penggambaran bersatunya lingga dan yoni, representasi alat kelamin perempuan dan laki-laki yang merupakan lambang kesuburan. Saat ini demi keamanan relief, gapura tersebut diberi pagar sehingga tidak bisa dilalui.

Patung-patung yang dulu tertata rapi, sekarang berantakan. Ada yang sekedar digeser atau sementara diamankan ke gedung purbakala.

kranyar-02
Destinasi berikutnya adalah candi Ceto yang berjarak sekitar 11 km dari candi Sukuh. Jalan menuju kompleks candi dihiasi dengan indahnya pemandangan perkebunan teh yang luas di kanan kiri. Yang bertugas jadi sopir sebaiknya jangan lengah dan terpukau pada indahnya pemandangan karena jalanan menanjak dan berkelok-kelok, resikonya bisa telat oper gigi. Saya ngalami sendiri. Sejujurnya, empat kali saya ke sini, baru yang kemarin bisa sukses lancar sampai atas tanpa pakai acara mobil melorot. Penumpang yang ribut mengungkapkan indahnya pemandangan saya abaikan, karena saya tahu, dia lakukan itu untuk menutupi ketakutannya πŸ˜€

ini foto lama, diambil tahun 2012

ini foto lama, diambil tahun 2012

Candi Ceto berada di ketinggian 1496 m di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh hutan pinus yang rindang hingga saat ini masih aktif digunakan untuk beribadat umat Hindu dan menjadi tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa. Kompleks seluas seluas 215 X 30 meter persegiΒ  ini terdiri dari sembilan tingkat yang masing-masing dihubungkan dengan undak-undakan. Yang paling menarik adalah gerbang depan berbentuk candi bentar khas Hindu yang menjulang tinggi. Setelah itu di pelataran depan terdapat patung-patung dan punden berundak. Sayangnya, karena musim liburan jadi banyak pengunjung, efeknya saya jadi males foto-foto. Ini sedikit yang sempat saya ambil. Atau, tulisan lain tentang candi ini pernah saya post di sini.

kranyar-03ab

kranyar-03

kranyar-04

Berikutnya adalah puri Taman Saraswati yang berada di atas candi Ceto. Akses berupa jalan setapak cukup bagus, tapi entah kalau pas hujan.Β  Dewi Saraswati dikenal sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat tangan, dengan masing-masing tangan memegang satu instrumen. Sang Dewi berdiri di atas bunga teratai, dan diantaranya ada dua burung. Lagi-lagi tempat itu banyak pengunjung, dan di sana harus lepas alas kaki, saya si malas yang kebetulan saat itu pakai sneakersΒ  jadi enggan ribet dengan tali-temali sepatu. Ambil foto dari luar saja. Dari teras puri ini bisa terlihat pelataran atas candi Ceto yang justru dari kompleks candi terlarang dimasuki. Menarik. Eh, di sebelah kanan Puri terdapat sendang Pundi Sari. Sempatkan membasuh muka dan rasakan ademnya air dari sendang ini. Iyalah, namanya juga air di dataran tinggi.. πŸ˜€

kranyar-05

kranyar-06
Nah, di atas Puri Saraswati ini, naik cuma sekitar 300 meter masih ada situs lagi, namanya candi Kethek (bhs Jawa: monyet). Karena bayangin di sana bakal ketemu monyet-monyet di candi seperti di film Monkey Kingdom, saya semangat dan kuat-kuatin lewati jalan setapak yang naik turun dan kelok-kelok. Jarak yang katanya cuma 300 meter, tapi sumpah, bagi saya seperti 2000 meter. Dalam rimbunnya pepohonan, akhirnya terlihat sosok candi Kethek eksotis dan singup. Namun saya tidak menemukan kera di sini, justru beberapa pasang kera kekinian yang sedang pacaran.

Candi ini memiliki struktur berbentuk punden berundak, ciri khas bangunan megalit di Nusantara. Diperkirakan candi ini dibangun dalam masa yang sama dengan candi Sukuh dan candi Ceto, yaitu sekitar abad 15.

kranyar-07
Di sekitar candi, masih banyak pohon-pohon besar yang batangnya dibungkus dengan kain putih. Saya tidak mendapatkan seseorang yang bisa ditanya tentang makna kain yang membungkus pohon juga tentang apakah candi ini masih berfungsi atau tidak. Ya iyalah, di sana ketemunya cuma monyet pacaran. Demi menghemat tenaga untuk balik ke tempat parkir, saya juga enggak naik ke candi, jadi enggak tahu di atas ada apa. Namun terlihat ada semacam bangunan cungkup dengan tiang berbungkus kain poleng khas Bali, di puncak atapnya terdapat mahkota keemasan. Susah sekali motret gambar ini, gara-gara musti sabar nungguin selesainya monyet-monyet yang pada foto-foto di sana.

kranyar-09

kranyar-08

serem gak? kebetulan lagi ada yang bakar sampah πŸ˜€

Setelah cukup beristirahat, akhirnya kami bergegas turun ke bawah untuk menuju destinasi selanjutnya, ngeteh di rumah teh Ndoro Donker. Tapi nulisnya entar, di post berikutnya aja..

 

Advertisements

28 comments

  1. Belum pernah kesini, wlopun musim liburan, terlihat difotonya kayaknya lagi sepi, dan topik soal yang duduk disamping itu sepertinya menarik dibuat tulisan yang cukup panjang (sorry kepo) habisnya sepertinya si penulis ini suka nulisnya (nah kan….sayanya sok tau lagi) dan selamat berlibur …………………

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s