Di Balik Layar

6
Perhelatan besar Dieng Culture Festival ke-7, baru saja usai. Tercatat 4000 tiket yang disediakan panitia habis terjual, dan konon pada malam kedua saat penerbangan lampion, ada sekitar 125.000 manusia berkumpul di kawasan setinggi 2000 meter di atas permukaan laut ini. Alhasil, kemeriahan, kegembiraan dan omelan kesal karena kemacetan bercampur aduk saat momen ini. Bagi mereka yang terlibat, euforia kepuasan dan kegembiraan dan aura dinginnya Dieng belum hilang.

Bagi saya pribadi, bertambah satu lagi pengalaman luar biasa yang berhasil saya lalui. Hampir setahun yang lalu, saya sempat “nembung” kepada mas Budhi – salah seorang penggerak DCF – untuk dilibatkan, meski hanya sekedar sebagai tukang foto atau apalah, setidaknya saya punya akses bebas ke venue-venue di perhelatan ini.. 🙂 Namun tiba-tiba saya mendapat amanah untuk mengkoordinir tim support – satu tim yang belum pernah ada sebelumnya – untuk membantu terlaksananya pergelaran besar ini. Bismillah, amanah tersebut saya terima.

di balik layar 2

rapat bersama tim dieng di wonosobo

Februari 2016, tujuh bulan sebelum Hari H, mulai melakukan rekruitmen volunteer. Mayoritas adalah mahasiswa yang ada di Jogja. Kerja-kerja persiapan segera dimulai, seperti menggelar pameran promosi, membantu melakukan penjualan tiket online, penjualan stand dan sebagainya. Beberapa kali pertemuan digelar untuk pemantapan dan update progress kerja. Hingga akhirnya bulan Juli, anggota tim bertambah menjadi hampir 50 orang karena mendapat suplai dari Keluarga Mahasiswa Banjarnegara. Minggu-minggu menjelang Hari H semuanya menjadi hectic, gaduh dan riuh. Para LO sibuk mengatur jadwal artis, tim grafis mempersiapkan berbagai media luar ruang yang akan dipajang di lokasi. Hingga akhirnya dengan segala keterbatasan namun percaya diri, hari Rabu, 3 Agustus tim support dari Jogja berangkat ke Dieng, bertemu dengan relawan dari Banjarnegara.

Komplek Museum Kailasa di Dieng memiliki satu aula di bangunan paling atas menjadi base camp para volunteer. Pada awalnya saya sempat shock karena kondisinya jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Bangunan di atas membuat harus melalui anak tangga sudah bikin nafas ngos-ngosan, aula yang tidak begitu besar digelari karpet untuk beristirahat teman-teman, belum lagi lokasi kamar mandi yang jauh dan terbatas. Ada satu malam saya melihat mereka tidur berjajar, meringkuk kedinginan membuat saya jadi baper, buru-buru keluar karena tidak bisa menahan tangis melihat ketegaran teman-teman. Totalitas dan rasa tanggung jawab tidak membuat mereka menjadi manja dan lembek. Sumpah, saya terharu.

di balik layar 3

boboknya kayak gini..

Politik Diam. Dalam satu kepanitiaan, terjadinya perbedaan pendapat, kerja yang tidak beres dan segala hal yang memancing emosi adalah wajar. Seperti halnya dalam tim support ini. Teman-teman relawan yang mayoritas masih muda dengan emosi yang mudah bergolak menjadi handicap yang tidak bisa dihindari. Saya sungguh mempercayai teman-teman yang masing-masing sudah diberi tanggung jawab. Semua dibiarkan mengalir, dan saya cenderung diam, melihat dan bergerak bila memang dibutuhkan. Namun memang ada masa seseorang harus tegas. Dan itu sesekali terpaksa lakukan. Pada masa kritis, event sudah berjalan, mereka yang tidak bisa diajak bekerja sama lebih baik ditinggal daripada mengacaukan kerja tim secara keseluruhan. Entah, gaya politik diam tersebut berhasil atau tidak tergantung komentar mereka hehe..

Lima hari berkumpul di satu tempat baru, dari yang awalnya tidak saling kenal kemudian harus berkerja sama bukanlah hal yang mudah. Di luar tugas mengelola event, banyak kejadian-kejadian lucu, kadang menjengkelkan namun justru semakin mempererat hubungan di antara para relawan. Proses bully-bullyan yang bahkan kurang ajar adalah salah satu media intermezzo di antara kami. Tidak ada yang marah dan semua tertawa. Oiya, tidak hanya saat KKN, namun yang namanya “cinlok” juga hinggap di event ini. Hahaha… itu manusiawi. Bahkan pada saat ngobrol terakhir pun saya mengamini, semoga mereka jadian beneran, sakinah, mawadah, warahmah dan punya anak banyak 😀

The Soul of Culture dipilih sebagai tema dari Dieng Culture Festival tahun ini. Saya menterjemahkan sebagai Kekuatan Keragaman dan Kebersamaan. Budaya gotong royong tanpa pamrih. Emang sih, dipas-pasin aja dengan kepentingan saya. Ada sekian puluh volunteer yang awalnya tidak saling kenal, yang berasal dari berbagai tempat dan kemudian disatukan dalam tugas yang sama, mensukseskan perhelatan ini. Bukan hal yang mudah namun kenyataannya semua bisa terjadi. Ketegaran dan rasa tanggung jawab mereka pada tugas membuat saya dua kali harus sembunyi-sembunyi untuk menangis. Saya bangga pada mereka.

di balik layar 1

sebagian anggota tim support.. yang lainnya masih sibuk wira-wiri

Dieng Culture Festival 2016 sudah berakhir. Namun semoga tali silaturahmi dan persahabatan yang telah terjalin tidak ikut buyar, justru semakin menguat. Puluhan messages yang dikirim ke saya mengungkapkan betapa mereka pun bahagia, minta maaf dan berterima kasih telah dilibatkan dalam kegiatan ini. “Maaf teman-teman.. sayalah yang harus bersujud di hadapan kalian, minta maaf atas segala kekurangan dan bentak-bentak saya, dan beribu terima kasih atas kerelaan meluangkan tenaga, waktu dan pikiran demi terselenggaranya perhelatan ini. Kalian hebat dan tegar. Tanpa kalian, saya hanyalah Aan yang tidak tahu harus berbuat apa…”

MATURNUWUN…!!

 

Advertisements

8 comments

  1. Yg tdk bisa d ajak kerjasama lebih baik di tinggalkan. . haha keren. . tp beneran ya kalau event itu panitia sering banyak yg susah d atur dan kadang ada yg malah cuma nebeng nama alias ngk ngejalanin kewajibanya. . kalu acara sukses dan usai itu rasanya lega dan seneng kadang haru juga tapi. … Seringnya klo jd yg d balik layar kurang bisa menikmati acara. .. Itu kalau gue ya. .

    Liked by 1 person

    1. orang memang macam2 dan banyak maunya, tinggal gimana kita pinter mengaturnya, tapi kalo mengganggu ya kudu disingkirin – minimal ditaruh di tempat yang dia duduk anteng enggak mengganggu…

      kalau cuma lihat acara sih tahun depan masih bisa, tapi dinamika yang terjadi di balik layar itu yang justru jadi pelajaran berharga 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s