Mampir di Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa. Foto-foto kapal pinisi yang bersandar di pelabuhan sarat sejarah ini membuat ngebet banget pengen ke sana. Sudah sejak lama, namun baru bulan kemarin saya bisa sampai di pelabuhan di muara sungai Ciliwung ini.

Pelabuhan Sunda Kelapa ini cukup tua. Konon sudah ada sejak jaman kerajaan Tarumanegara sekitar abad 5. Pada masa kerajaan Sunda Pajajaran sekitar abad ke 12, pelabuhan ini semakin ramai dan didatangi pedagang dari Cina, India dan Timur Tengah yang membawa porselin, kain sutra dan barang lain untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Kawasan ini menjadi semakin ramai saat bangsa Portugis mendarat dan membangun benteng di sini. Pelabuhan ini pula yang menjadi cikal bakal kota Jakarta. Titik nol dimulai saat Fatahillah mengusir Portugis dan menguasai wilayah Sunda Kelapa serta mengubah namanya menjadi Jayakarta.

Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki fungsi strategis pada masa penjajahan Belanda. Berawal dari penghancuran kota Jayakarta pada tahun 1619 oleh Belanda. Kemudian di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen, kota ini dibangun kembali dan diubah namanya menjadi Batavia. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menjadikan Batavia sebagai kantor pusat mereka.

Selanjutnya kawasan ini berkembang pesat. Kanal diperbesar sehingga menampung banyak kapal, dibangun gudang penampungan di sepanjang sungai Ciliwung, gedung Stadhuis van Batavia atau gedung balai kota yang menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda, hingga stasiun Beos yang kini menjadi stasiun Jakarta Kota.

Saat ini pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pelabuhan kecil yang melayani bongkar muat kapal kelas pinisi untuk mengangkut sembako, barang kelontong dan tekstil untuk dibawa ke luar pulau Jawa. Proses bongkar muat pun masih menggunakan cara tradisional. Meski di seberang jalan terdapat tumpukan kontainer yang membuat suasana terlihat kontras. Saat saya di sana, berjajar puluhan kapal pinisi yang bersandar. Di antara kapal pinisi tersebut, sesekali ada tukang perahu yang menawarkan jasanya membawa ke ujung dermaga menggunakan perahu motor kecil. Biayanya Rp 50.000,-

Tidak hanya melihat dari luar, saya mencoba masuk ke kapal menggunakan sebilah papan yang lumayan serem saat melintasinya. Bilah papan selebar 30cm hanya dengan potongan-potongan karet ban lebar 2cm sebagai tempat pijakan. Saat naik masih rada gaya, namun waktu turun… nganu, ahsudahlah, malu-maluin… πŸ˜€

Berjalan (dan melompat) dari satu kapal ke kapal yang lain sangat menyenangkan. Sempat menyapa dan ngobrol singkat dengan awak kapal. Mereka sedang menunggu besi dan bahan bangunan untuk diangkut ke Kalimantan, setelah sebelumnya mengangkut kayu dari sana. Yang paling asik adalah saat berdiri di haluan kapal. Jelas tidak ada adegan seperti Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet di film Titanic. Dari sana terlihat puluhan kapal yang bersandar, menara masjid Luar Batang serta sisa-sisa bongkaran rumah di Pasar Ikan. Boleh dicoba, asik sekali nongkrong di sini. Sayang gak ada kopi πŸ™‚

Pelabuhan Sunda Kelapa memang pantas dijadikan sebagai kawasan wisata sejarah, meskipun masih perlu dikemas di sana-sini agar wisatawan merasa nyaman dan para pekerja disana juga tidak terganggu. Satu hal yang saya agak kecewa karena pas ke sana gak bawa kamera. Jadi foto-foto cuma pakai hp 😐

siapa mau coba naik ke kapal pake ini? Sumpah, turunnya serem banget..

Advertisements

17 comments

  1. Aman nggak sih waktu Mas kemarin wisata ke Sunda Kelapa? Saya kadang agak khawatir, makanya sampai sekarang belum pernah benar-benar berkunjung ke sana, haha. Padahal wisata di sini bisa menimbulkan nuansa berbeda. Nostalgia buat yang suka sejarah, dan ladang pengamatan yang subur bagi mereka yang berkecimpung di bidang ekonomi dan humaniora.
    Agak sayang, bandar sebesar Kalapa sekarang tidak jadi pelabuhan yang cukup penting. Memang sudah ada Tanjung Priok, tapi pelabuhan ini adalah cikal-bakal Jakarta sebagai pusat perdagangan maritim. Beberapa perubahan akan aliran sungai di sekitar Sunda Kelapa sudah terbukti sebagai keputusan yang salah, karena di sana ada beberapa kubangan air kotor yang tak mengalir lagi.

    Like

    1. Aman sih, bahkan kemarin malah jalan sampai Pasar Ikan dan masjid Luar Batang yang sempat pernah heboh itu… Ayo kamu kesana.. tulisanmu pasti lebih detil dan asik..

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s